Tampilkan postingan dengan label Komentar Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komentar Buku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 April 2010

Seri `Twilight ' dapat tantangan dalam daftar buku New York


Sumber : Yahoo News via Yahoo Alerts
NEW YORK - Stephenie Meyer, penulis terpanas untuk kaum muda sejak JK Rowling, memiliki link baru pencipta "Harry Potter": sebuah tempat yang tinggi dalam daftar buku yang paling mengeluh tentang oleh orang tua dan pendidik.

Meyer's jutaan-menjual "Twilight" series menduduki peringkat No 5 pada laporan tahunan "buku menantang" dirilis Rabu oleh American Library Association. Meyer cerita tentang vampir dan asmara remaja telah dikritik untuk konten seksual; seorang pejabat asosiasi perpustakaan juga berpikir bahwa Twilight "" seri mencerminkan kegelisahan umum tentang kisah-kisah supranatural.

"Vampire novel telah menargetkan selama bertahun-tahun dan` buku Twilight 'sangat sangat terkenal yang banyak perhatian orang telah tentang vampir terfokus pada buku-bukunya, "kata Barbara Jones, direktur asosiasi Kantor untuk Intelektual Kebebasan.

kelompok Kristen selama bertahun-tahun telah memprotes tema sihir dalam buku-buku Rowling, yang tidak muncul di 10 besar saat ini.

Topping grafik 2009 adalah "Lauren Myracle's IM" serial, novel mengatakan melalui pesan instan yang telah dikritik karena ketelanjangan, bahasa dan referensi obat. No tahun lalu 1 buku, "Dan Tango Makes Tiga," oleh Peter Parnell dan Justin Richardson, sekarang No 2, dikutip lagi untuk ceritanya tentang dua penguin jantan mengadopsi bayi. Ketiga adalah Stephen Chbosky's "The Perks Menjadi gadis yg duduk tanpa berdansa," dimana banyak alasan termasuk obat-obatan, bunuh diri, homoseksualitas dan antifamily sedang.

Juga dikutip telah perennials seperti "Catcher JD Salinger's in the Rye" (konten seksual, bahasa), Harper Lee "To Kill a Mockingbird" (bahasa, rasisme), "Alice Walker's The Color Purple" (konten seksual, bahasa) dan Robert Cormier's "The Chocolate War" (ketelanjangan, bahasa, konten seksual).

ALA tercatat 460 tantangan di tahun 2009, turun dari 513 tahun sebelumnya, dan 81 buku ini sebetulnya sudah dihapus. ALA mendefinisikan tantangan sebagai keluhan "formal, ditulis mengajukan dengan perpustakaan atau sekolah meminta bahan dihapus karena konten atau kesesuaian."

Untuk setiap tantangan dihitung, sekitar empat atau lima berakhir tidak dilaporkan, menurut ALA.

____

http://www.ala.org

Jumat, 09 April 2010

The petualangan Malaka


Judul: Twinkletoes - The petualangan Malaka, Pengarang & Illustratator: Thomas Koh & Titian, Penerbit: Angsana Books, Rating: 3 / 10 (2 Singkirkan jika Anda lebih dari 12 tahun)

Twinkletoes, ditulis dan diilustrasikan oleh Thomas Koh dan Titian, adalah seri yang sangat nostalgia.

Nostalgia dalam arti bahwa hal itu mengingatkan Anda tentang cerita yang Anda baca dalam buku pelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar Malaysia.

Bahkan ilustrasi yang mengingatkan orang-orang buku, dengan Osman, Muthusamy dan Lai Seng Kok.

Hanya, salah seorang tokoh utama bernama Leandro Giovanni Ang Soon Huat, sementara yang lain adalah Charles Reginald Choo Thye Hong, dan mereka pergi ke Morrison tinggi, dan terlibat dengan tim sepak bola (maka, Twinkletoes judul).

Presentasi ini jelas ditujukan pada anak-anak, dengan beberapa kata-kata besar seperti 'kekasih' dan 'memukul' (seperti, memukul baru) dilakukan di font warna-warni yang melompat keluar pada Anda dari tengah halaman, menjerit ... baik, menjerit sesuatu.

Copy direview adalah The petualangan Malaka, keempat dalam seri. Ini menceritakan bagaimana tim sepakbola pergi ke Malaka untuk pertandingan persahabatan.

Cue ekspositoris beberapa situs sejarah yang melibatkan urutan Malaka itu. Semua melalui buku ini, akan ada 'pemutus' atau segmen yang menampilkan hal-hal sepele dan artikel yang dimulai dengan 'Hai anak laki-laki dan perempuan! ".

Seri ini benar-benar untuk anak-anak saja. Dan pada saat itu, hanya untuk anak-anak yang suka membaca cerita dalam buku pelajaran bahasa Inggris mereka. - Oleh AMIR HAFIZI

Sabtu, 13 September 2008

Gara-gara Pak Haji Thalib

Oleh Septina Ferniati
Gara-gara Pak Haji Thalib---Fenfen

Si sulung sedang senang-senangnya menghapal ayat-ayat Al-Qur'an. Heboh dan seru banget. Dia hapal beberapa surat yang lumayan panjang, dengan nada suara yang dilagu-laguin, entah lagu apa.

Selain sedang senang ke masjid dan jadi pembaca iqamat, dia juga rupanya punya cita-cita baru; penghapal ayat-ayat Qur'an. Wow, hebat! Untuk ukuran anak delapan tahun, cita-cita itu sungguh dahsyat.

Sayangnya, dia kadang-kadang masih marah, atau ketus, atau bahkan galak, yang bikin saya sebel dan merasa bahwa akhlak minusnya nggak sebanding dengan cita-cita hebatnya. Tapi semoga semua ini hanya proses, yang butuh waktu lama dan panjang, sampai suatu saat hatinya bisa selaras perbuatannya.

Biasa lah, saya kadang ingin dia instan baik, instan sadar, instan sabar, dan instan-instan lainnya, menggantikan galak, ketus, dan marahnya. Tapi seperti seorang temen bilang, "Masak nyuruh si Lalang sabar? Please deh, umurnya harus 25 taun dulu bo'!"

Sudah dua hari belakangan Ilalang suka banget baca surat At-Takatsur. Dia menghapalnya dengan instan. Saya bersyukur lha. Dia baca dengan nada aneh dan khas, seolah sedang melucu. Saya pikir dia baca surat itu sambil berusaha melucu, ingin bikin orang yang mendengarnya tertawa. Ternyata nggak. Dia bilang bacanya memang begitu, dan bukan untuk tujuan melucu. Ketika ditanya dari siapa dia belajar menghapal begitu cepat, dia bilang singkat, "Pak Thalib."

Pak Thalib sesepuh di Panorama, tersohor sebagai orang tua yang rajin ke masjid dan sering jadi imam salat. Dia juga jadi kenalan baik anak saya baru-baru ini, setelah anak saya rajin ke masjid. Dia menyebut anak saya sebagai calon remaja masjid. Kebayang kan akrabnya mereka berdua?

Saya tanya, "Emang Pak Thalib gitu ya baca Qur'annya? Nadanya aneh, naek turun, kayak orang mau tidur terus bangun lagi, tidur, bangun lagi." Anak saya semangat jawab, "Iya, emang gitu. Enak menurut Lalang mah, suka da' dengernya…" Matanya bersinar persis kayak kalau dia mendapatkan keinginannya.

Saya gak mau tanya-tanya lagi. Habis nadanya memang aneh, naik-turun, naik-turun, persis seperti orang yang sedang ngantuk lalu tersentak karena sesuatu hal dan terbangun karena kaget, begitulah pokoknya. Saya kurang sreg anak saya ikut-ikutan nada Pak Thalib itu.

Lalu saya tantang dia bikin nada lagu sendiri. Dia coba berkali-kali, tapi tetap nada Pak Thalib itu yang dominan, lagi dan lagi. Akhirnya dia capek dan bilang, "Udah ah nyari nadanya, Lalang mau kayak Pak Thalib aja baca Qur'annya. Lebih enakeun…"

Ya sudah. Berhari-hari saya dengar dia membaca ayat-ayat Qur'an dengan style baca Pak Thalib, sampai hampir bikin saya be-te. Sambil ngasuh adek, saat masak, atau santai, pokoknya hampir dalam setiap keadaan saya dengar dia baca Qur'an dengan nada naik-turun yang aneh. Apa boleh buat, itu pilihannya. Bahkan karena senang dengan nada Pak Thalib itu, akhirnya dia bisa hapal beberapa surat yang cukup panjang seperti At-Takatsur dan Al Ma'un hanya dalam waktu satu hari saja.

Saya mulai ngeh, anak saya pasti gampang hapal karena dia suka dan merasa klop dengan nada baca Qur'an yang dilagukan Pak Thalib. Dia jadi lebih giat baca dan menghapal ayat gara-gara itu.

Sekarang saya tantang dia untuk membaca arti suratnya. Dia melakukannya dengan sukarela dan tanpa syarat. Dan yang menakjubkan, saat semua orang hampir teler karena kecapean dan kenyang, dia sendirian baca Qur'an dengan artinya ditemani lampu baca 25 watt. Jelas takjub, dia kan agak penakut. Tapi berkat nada lagu baca Pak Thalib, Ilalang jadi jauh lebih berani.

Meskipun dia masih suka nyebelin, atau sengaja memicu pertengkaran dengan adek atau kami, perkembangan baru itu sungguh menyenangkan dan patut dibiarkan. Suami mengomentari, "Ayo Lang, setelah hebat ngapalin ayat, kamu juga brenti ngompol dong. Terus jangan suka marah lagi ya…